Monday, 22 August 2016

Burung Elang Itu Telah Terbang Jauh

 Dari berbagai hal yang aku baca dan aku tulis maka episode detik terakhir menjelang kepergian Putera Sang Fajar merupakan episode yang paling tidak aku suka, betapa tidak karena episode ini merupakan titik awal runtuhnya wibawa bangsa ini. Tidak aka nada lagi gertakan terhadap PBB, tidak akan kita dengar lagi kata Ganyang Malaysia dan berbagai gebrakan yang membuat kita merasa bangga memilikinya.
Namun apapun yang ada dalam perasaan ini maka mau tak mau episode ini harus kita tuliskan, karena terlepas dari suka atau tidak suka inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi ABRI Bung Karno
Hari-hari terakhir Bung Karno ini, saya penggal mulai dari peristiwa tanggal 16 Juni 1970 ketika Bung Karno dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto). Ia dibawa pukul 20.15, harinya Selasa. Ada banyak versi mengenai peristiwa ini. Di antaranya ada yang menyebutkan, Sukarno dibawa paksa dengan tandu ke rumah sakit.
Hal itu ditegaskan oleh Dewi Sukarno yang mengkonfirmasi alasan militer, bahwa Bung Karno dibawa ke RS karena koma. Dewi mendapat keterangan yang bertolak belakang. Waktu itu, tentara datang membawa tandu dan memaksa Bung Karno masuk tandu. Tentara tidak menghiraukan penolakan Bung Karno, dan tetap memaksanya masuk tandu dengan sangat kasar. Sama kasarnya ketika tentara mendorong masuk tubuh Bung Karno yang sakit-sakitan ke dalam mobil berpengawal, usai menghadiri pernikahan Guntur. Bahkan ketika tangannya hendak melambai ke khalayak, tentara menariknya dengan kasar.
Adalah Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di saat-saat akhir. Demi mendengar bapaknya dibawa ke RSPAD, ia pun bergegas ke rumah sakit. Betapa murka hati Rachma melihat tentara berjaga-jaga sangat ketat. Hati Rachma mengumpat, dalam kondisi ayahandanya yang begitu parah, toh masih dijaga ketat seperti pelarian. “Apakah bapak begitu berbahaya, sehingga harus terus-menerus dijaga?” demikian hatinya berontak.
Dalam suasana tegang, tampak Bung Karno tergolek lemah di sebuah ruang ujung becat kelabu. Tak ada keterangan ruang ICU atau darurat sebagaimana mestinya perlakuan terhadap pasien yang koma. Tampak jarum infus menempel di tangannya, serta kedok asam untuk membantu pernapasannya.
Untuk menggambarkan kondisi Sukarno ketika itu, simak kutipan saksi mata Imam Brotoseno, “Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa –dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar kemana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas.
Sekali lagi tangan Soekarno tergolek lemas persis seperti nasib bangsa ini yang kian hari kian tergolek lemas

Foto BK untuk Oei Hong Kian

oei hong kian
Sidang Istimewa MPRS 7-12 Maret 1967 menghasilkan keputusan untuk menarik mandat dari Pemimpin Besar Revolusi itu. Bung Karno harus keluar dari Istana Merdeka. Dalam nama ia masih presiden, tetapi dalam kenyataan ia tahanan rumah di Bogor. Mungkin BK sebelumnya sudah merasa bahwa hal itu akan terjadi. Namun tetap saja, keputusan itu bagaikan sambaran petir. Majelis yang sebagian besar anggotanya dia pilih, berbalik menentangnya.
Pertengahan April 1967 drg. Oei Hong Kian kedatangan Pak Djamin, utusan Bung Karno. Selain menyampaikan salam BK, ia juga mengantarkan satu set ballpoint dan pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera warna putih berinisial ‘S’, serta sebotol besar parfum Shalimar buatan Guerlain. Ada juga sampul besar berisi foto Bung Karno ukuran 17,5 X 23 cm dengan tulisan: “Untuk Dr. Oei Hong Kian” dan dibubuhi tanda tangan BK serta tanggal 12-4-1967.
Malam harinya Oei Hong Kian memperhatikan foto BK dengan seksama. Dia merasa terharu. Oei Hong Kian mersakan bahwa BK pada saat itu pasti sedang dalam keadaan sulit. Tetapi rupanya ia tidak lupa menunjukkan penghargaan kepada dokter giginya yang baru beberapa bulan dikenal.
Keharuan juga terasa ketika mengingat pertanyaannya yang disampaikan lewat Pak Djamin apakah Oei Hong Kian masih dapat menghargai fotonya? Maklum, foto itu diberikan pada saat ia bukan lagi presiden. Mungkin itu termasuk salah satu foto terakhir yang ia berikan secara pribadi kepada seseorang.
Dalam fikiran Oei Hong Kian mengira hubungannya dengan BK telah berakhir. Menurut berita burung yang dia dengar, kesehatan BK menurun drastis. Ingatannya lemah, jalannya pincang.
Tiba-tiba sekitar awal September 1967, dokter pribadi BK memberitahu bahwa BK ingin berobat lagi. Ia akan datang ke rumah drg. Oei Hong Kian. Dokter pribadi itu berpesan agar Oei Hong Kian memperhatikan keamanan. Tapi, apa yang bisa dilakukan seorang dokter gigi untuk melindungi keamanan pasiennya?
Dalam konsidsi yang serba sulit Oei Hong Kian memutuskan agar BK memasuki rumah lewat pintu samping. Kedua mobil Oei Hong Kian akan dikeluarkan dari garasi, lalu pintu garasi akan dibuka lebar-lebar. Begitu mobil BK masuk ke garasi, pintunya akan ditutup.
Pukul 08.45 keesokan harinya, seorang prajurit datang mengendarai jip militer. Ia menyetujui prosedur yang Oei Hong Kian tawarkan. Tepat pukul 09.00 BK tiba dengan sedan Mercedes 600, diiringi lima jip putih penuh prajurit. Cuma tidak ada raungan sirene, dan fungsi pengawalannya sudah berbeda.
Bung Karno duduk di bangku belakang yang sangat lapang, tetapi tanpa ajudan. Celananya abu-abu, bajunya putih berlengan pendek dan dibiarkan keluar. Peci hitam tidak ketinggalan. Ia kelihatan sehat wal afiat. Dengan gesit, tanpa bantuan, ia keluar dari mobil.
“Selamat pagi, Pak Dokter,” sapanya sambil mengulurkan tangan. “Tidak disangka-sangka, ya, kita akan bertemu lagi dalam waktu secepat ini. Ini, gigi saya ada yang terganggu. Bagaimana, baik-baik semua?” Sikapnya biasa saja, seolah-olah tidak ada sedikit pun ganjalan di dalam hati.
Oei Hong Kian persilakan BK masuk ke kamar praktik. Seorang prajurit mengikuti, tetapi ditolak oleh drg. Oei Hong Kian. Dia bilang tidak bisa bekerja sambil ditunggui. Untunglah si prajurit mengerti walaupun semula menolak.
Oei Hong Kian dibantu keponakan istrinya, seorang wanita dokter gigi juga. Bung Karno rupanya selalu ingat pada nama orang yang dijumpainya. Sejak itu, kalau keponakan istri Oei Hong Kian tidak ada, BK tak pernah lupa menanyakannya.
Oei Hong Kian merasa lega melihat keadaan BK tidak menyedihkan. Pria itu masih tetap jernih, riang seperti dulu, dan juga penuh humor.
Sambil melepaskan pecinya, BK bertanya, “Saya ingin tahu, apakah Pak Dokter masih bisa menghargai foto saya?”
“Bapak tentu pernah memberikan foto kepada banyak orang. Tetapi karena Bapak memberikannya kepada saya pada saat itu, foto itu tinggi nilainya bagi saya.” Demikian Oei Hong Kian menjawab pertanyaan BK namun demikian perasaan haru sangat menyelimuti batin dan hati Oei Hong Kian.
Oei Hong Kian belum lama mengenal BK. Saat ia terpukul karena kekuasaannya dilucuti, ternyata ia masih ingat memberikan cendera mata. Apakah itu penghargaan atas pelayanannya sebagai dokter gigi, ataukah tanda mata bagi salah satu dari segelintir orang yang membantu mengusir kesepiannya di saat sulit, walau cuma sebentar?
“Bapak saat ini tidak bisa memberi imbalan apa-apa,” lanjut BK. Mendengar ucapan BK Oei Hong Kian sampai tidak bisa berkata-kata. Mungkin ia tahu tidak ada yang memikirkan honorarium saya. Terus terang Oei Hong Kian sendiri juga tidak pernah memikirkannya. Oei Hong Kian tahu bahwa dalam keadaan normal dokter pribadi akan memperoleh fasilitas khusus. Namun saat itu bukanlah keadaan normal. Yang ada sat ini adalah BK diambang senja kekuasaannya
Ketika akan pulang, BK minta bertemu dengan istri Oei Hong Kian. Di ruang duduk istri Oei Hong Kian mempersilakan BK untuk singgah, tetapi BK menolak. “Terima kasih. Nanti suami Anda bisa dikira yang bukan-bukan kalau saya berlama-lama di sini.”
Walau tidak pernah berlama-lama, BK beberapa kali datang lagi untuk periksa. Suatu kali, ketika ia datang, putri Oei Hong Kian sedang mengerjakan PR. Bung Karno mengusap-usap kepala anak itu sambil berkata, “Belajar baik-baik ya, Nak. Supaya nanti pandai.”
Kebetulan putri Oei Hong Kian yang nomor tiga memasuki ruangan. “Wah, kau pasti ingin jadi dokter kelak, seperti ayahmu,” kata BK seraya mengampiri anak itu dan (juga) mengusap-usap kepalanya. Kedua putera Oei Hong Kian itu belakangan memang menjadi dokter gigi.
Pada suatu pagi BK datang tanpa iringan jip.
“Kok sendirian, Pak?” tanya Oei Hong Kian.
“Mereka belum datang. Padahal saya tidak mau terlambat.” Bung Karno memang selalu datang sesuai waktu perjanjian. Hal itu tentu sangat memudahkan Oei Hong Kian yang anti jam karet.
Bung Karno memerlukan dua-tiga kali kunjungan setiap kali merasa giginya terganggu. Suatu saat ia berkata, “Saya ingin bicara blak-blakan. Saya ingin tinggal agak lama sedikit di Jakarta. Di Jakarta saya lebih dekat dengan anak-anak. Tapi mungkinkah itu?”
Pada saat itu BK tinggal di Bogor. Tetapi kalau sedang membutuhkan perawatan, ia tinggal di Wisma Yaso (Museum ABRI Satria Mandala) di Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Dari situ BK hanya boleh pergi-pulang ke rumah Oei Hong Kian.
Mendengar pertanyaan yang agak merenyuhkan maka Oei Hong Kian spontan menjawab, “Tentu mungkin, Pak. Waktu pengobatan bisa diulur. Seandainya diulur tiga minggu, cukup Pak?” BK kelihatan gembira sekali. “Wah, terima kasih banyak!” Oei Hong Kian sampai terharu karena hal kecil saja bisa membuat bahagia bekas presiden yang pernah menggegerkan pata tokoh dunia namun saat ini sedang kesepian dan terasing.
Selama lebih dari setahun merawat gigi BK, Oei Hong Kian tak pernah membicarakan soal politik. Suatu kali BK bertanya di mana Profesor Ouw, dokter giginya sebelumnya, berada. Oei Hong Kian jawab, dia di Hong Kong. Bung Karno tidak mengerti mengapa ia pindah ke sana.
“Itu karena Bapak,” kata Oei Hong Kian.
“Saya disalahkan lagi,” ia menanggapi.
“Ya. Bapak mengangkatnya jadi anggota DPA. Ketika mahasiswa mulai bergolak, ia takut dan cepat-cepat pergi.”
“Namun ia toh bisa pamit. Atau paling sedikit bisa menulis surat,” BK ngotot.
Oei Hong Kian hanya bisa mengatakan bahwa orang itu takut.
Dua anak Oei Hong Kian sedang menuntut ilmu di Universitas Amsterdam. Tak lama lagi kedua adiknya akan menyusul. Jadi Oei Hong Kian hanya akan berdua dengan istrinya di Jakarta. Daripada terpisah-pisah, lebih baik pindah saja ke Amsterdam.
Ketika BK datang pada bulan Februari 1968, Oei Hong Kian beritahukan rencananya untuk pindah pada akhir Maret.
Bung Karno menanggapi, “Tidak perlu menjelaskan kepada Bapak apa artinya kesepian. Bapak mengerti. Tapi kita masih akan berjumpa beberapa kali lagi, ‘kan?”
Pertengahan Maret BK menyatakan ingin pulang ke Bogor. Padahal Oei Hong Kian akan memasang tambalan emas pada gigi BK. Diantara dua sahabat itu berjanji akan bertemu untuk terakhir kalinya 21 Maret 1968.
Ternyata antara tanggal 21-30 Maret 1968 ada Sidang Umum MPRS, Oei Hong Kian diberitahu pihak berwajib bahwa BK tidak bisa datang pada tanggal itu. Ternyata pada hari-hari berikut pun BK tidak datang. Padahal tanggal 30 Maret Oei Hong Kian harus berangkat. Terpaksa pemasangan tambalan emas pada gigi BK dipercayakan kepada rekannya sejawat.
Dan sejak itu Oei Hong Kian tidak pernah lagi bertemu dengan BK, yang tersisa adalah cedera mata dari BK yang senatisa mengingatkan drg. Oei Hong Kian bahwa dia pernah menjalin persahabat dengan BK disaat kekuasaan tak lagi di tangan BK. Dan mungkin Oei Hong Kian hanya bagian dari segelintir orang yang berani menjalin persahabatan dengan BK disaat Putera Sang Fajar akan menjelang runtuh.

Diplomasi Pemilihan Sebuah BH

Bukan Presiden bila tidak melakukan lawatan ke luar negeri, terlebih untuk Presiden Soekarno selaku Presiden dari sebuah negara yang baru merdeka. Kunjungan keberbagai negara sangatt diperlukan dalam rangka memperkenalkan diri serta meyampaikan pandang tentang kearam mana sebuah negara yang baru merdekan akan dibawa. Kubu Amerika atau berkiblat ke Moskow
Suatu hari di tahun 1956, untuk pertama kalinya Presiden Sukarno berkunjung ke Amerika Serikat. Pada kunjungan pertamanya, ia merasa mendapat sambutan yang begitu hangat dari rakyat Amerika. Di antara sela-sela kunjungannya, Bung Karno menyempatkan diri untuk berjalan-jalan, menikmati kota California.
Sesaat, ia teringat pesan istrinya yang minta dibelikan kutang, alias BH, atau bra. Ia pun segera menuju gerai pakaian dalam diantar Ny. Johnston, janda raja film Amerika. Di sudut pakaian dalam wanita, Bung Karno masih kebingungan bagaimana memilih kalimat yang pas untuk tujuannya mencarikan BH titipan istrinya. Sementara, para penjaga toko sudah gelisah menunggu “titah” Bung Karno. Segera Bung Karno nyeletuk, “Bolehkah saya lihat salah-satu songkok daging yang terbuat dari satin hitam itu?”
Gadis penjaga konter BH pun mengambilkan beberapa buah. Entah berpura-pura lupa, atau ada unsur iseng, yang pasti Bung Karno menunjukkan lagak kebingungan untuk menentukan ukuran. Hingga akhirnya ia berbisik kepada Ny. Jonston, “Apakah bisa dikumpulkan ke sini semua gadis penjual, supaya saya bisa menentukan ukurannya?
Maka… berpawailah gadis-gadis di hadapan Bung Karno. Tak dijelaskan, apakah dalam berparade mereka juga diharuskan membusungkan dadanya? Tapi dengan nada sopan, Bung Karno memandangi satu per satu dada para gadis penjual di toko itu. Komentarnya, “Tidak, engkau terlalu kecil… O, engkau kebesaran….” sampai akhirnya Bung Karno menunjuk seorang wanita dan berkata, “Yaa… engkau cocok sekali. Saya akan mengambil ukuranmu, please….”
Ternyata, Bung Karno tepat memilih ukuran BH untuk istrinya.
Cerdik atau nilai apa yang akan anda berikan untuk Putera Sang Fajar ini ?

Diplomasi Pemilihan Pesawat Terbang Ala Bung Karno

Akhir-akhir ini kita dengar tragedi para tekhnisi pesawat Sukhoi yang meninggal di Indonesia. Entah apa yang akan terjadi di balik peristiwa tersebut, sesak rasanya fikiran untuk mengkajinya.
Dari pada berbicara masalah tragedi perakitan pesawat Sukhoi mungkin akan lebih segar rasanya kalau kita berbicara tentang pesawat terbang dan kaitannya dengan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.
Tahun 60-an, saat usia kemerdekaan kita masih berbilang belasan tahun, Indonesia –dan Bung Karno– sudah menjadi bangsa dan negara yang dihargai oleh para pemimpin negara besar, utamanya penguasa Blok Kapitalis (Amerika Serikat) dan Blok Komunis (Rusia atau Uni Sovyet).  Kedua negara adidaya yang terlibat perang dingin karena beda ideologi tadi, saling berebut pengaruh terhadap Indonesia.
Sikap Bung Karno? Sangat jelas, dia menyuarakan kepada dunia sebagai negara nonblok. Sekalipun begitu. bukan berarti Indonesia adalah negara yang istilah Bung Karno hanya “duduk thenguk-thenguk” tanpa berbuat apa-apa bagi peradaban dunia. Nonblok yang aktif. Karena itu pula, Bung Karno berhasil menggalang kekuatan-kekuatan baru yang ia wadahi dalam NEFO (New Emerging Forces), sebuah kekuatan baru, terdiri atas negara-negara yang baru merdeka, atau sedang berkembang.
Nah, ini cerita tentang pesawat terbang. Dalam berbagai lawatan ke luar negeri, pemerintah Indonesia menyewa pesawat komersil Pan America (PanAm), lengkap beserta kru untuk rombongan Presiden Sukarno. Ini sempat jadi masalah diplomatik, ketika Bung Karno hendak berkunjung ke Rusia, memenuhi undangan Kamerad Nikita Kruschev. Sebab waktu itu, tidak ada satu pun perusahaan penerbangan Amerika Serikat yang mempunyai hubungan tetap dengan Moskow.
Rusia terang-terangan keberatan bila Bung Karno datang menggunakan PanAm dan mendarat di Moskow. Karena itu, pihak pemerintah Rusia mengajukan usul, akan menjemput Bung Karno di Jakarta menggunakan pesawat Rusia yang lebih besar, lebih perkasa, Ilyushin L.111.
Sudah watak Bung Karno untuk tidak mau didikte oleh pemimpin negara mana pun. Termasuk dalam urusan pesawat jenis apa yang hendak ia gunakan. Karenanya, atas usulan Rusia tadi, Bung Karno menolak. Bahkan jika kedatangannya menggunakan PanAm ditolak, ia dengan senang hati akan membatalkan kunjungan ke Rusia.
Pemerintah Rusia pun mengalah. Ya… mengalah kepada Sukarno, presiden dari sebuah negara yang belum lama berstatus sebagai negara merdeka, lepas dari pendudukan Belanda dan Jepang.
Akan tetapi, tampaknya Rusia tidak mau kehilangan muka sama sekali, dengan mendaratnya sebuah pesawat Amerika –musuhnya– di tanah Moskow. Alhasil, ketika pesawat PanAm jenis DC-8 mendarat di bandar udara Moskow, petugas traffic bandara langsung mengarahkan pesawat yang ditumpangi Sukarno dan rombongan parkir tepat di antara dua pesawat terbang “raksasa” buatan Rusia, jenis Ilyushin seri L.111. Seketika, tampak benar betapa kecilnya pesawat Amerika itu bila dibanding dengan pesawat jet raksasa buatan Rusia.
Belum cukup dengan aksi “unjuk gigi” tadi, Kruschev yang menjemput Bung Karno di lapangan terbang, masih pula menambahkan, “Hai, Bung Karno! Itukah pesawat kapitalis yang engkau senangi? Lihatlah, tidakkah pesawat-pesawatku lebih perkasa?”
Mendengar ucapan itu, Bung Karno hanya tersenyum lebar dan menjawab, “Kamerad Kruschev, memang benar pesawatmu kelihatan jauh lebih besar dan gagah, tetapi saya merasa lebih comfortable dalam pesawat PanAm yang lebih kecil itu.”
Satu hal yang dapat kita petik dari tulisan ini adalah: Betapa kokohnya Presiden Soekarno dalam mempertahankan prinsip dan sangat antinya Pemimpin Besar Revolusi ini untuk diatur bangsa lain, jangankan politik atau batas wilayah Negara, masalah pesawat terbangpun Presiden Soekarno tidak mau dicampuri. Pertanyaan besar yang ada sekarang adalah: “Mampukah Presiden pasca Soekarno memiliki keteguhan prinsip seperti Soekarno.” Saya yakin anda para pembaca lebih tahu jawabannya.

Neraka Hitler

Hitler tak mau belajar dari sejarah. Di Stalingrad, pasukannya mengulangi kekalahan Napoleon Bonaparte saat menginvasi Rusia lebih seabad sebelumnya.
SUATU tempat di barat Rusia, 129 tahun pasca-invasi Napoleon Bonaparte ke negeri itu. Suasana tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Serdadu Tentara Merah di pos perbatasan tetap berjaga seperti biasa hingga sesuatu yang ganjil terjadi sekitar pukul 03.30 tanggal 22 Juni.
“Beberapa saat sebelum subuh 22 Juni 1941, serdadu patroli dan pos jaga terluar front barat Uni Soviet mencatat ada sesuatu yang janggal terjadi di langit. Bintang-bintang aneh terlihat di kejauhan, melintasi wilayah-wilayah Polandia yang telah direbut Nazi, menerangi garis langit sebelah barat,” tulis Sergei Smirnov dalamHeroes of Brest Fortress.
Para serdadu jaga Rusia itu tak menyangka bahwa “bintang aneh” yang mereka lihat adalah cahaya dari pesawat-pesawat Jerman.
Meski banyak mendapat penentangan, termasuk dari Jenderal Gerd von Rundstedt, Jerman melancarkan “Operasi Barbarossa”. “Dunia akan menahan nafas,” kata Hitler.
Menteri Luar Negeri Jerman Joachim von Ribbentrop pun seakan tak percaya Barbarossa benar-benar dilaksanakan. “Fuhrer benar-benar menyerang Rusia?” Ribbentrop terus meyakinkan dirinya, sebagaimana ditulis Antony Beevor dalam Stalingrad. September dua tahun sebelumnya ia menandatangani pakta tak saling serang bersama Menteri Luar Negeri Molotov, tapi Hitler tak mengindahkannya. Pasukan Jerman bergerak cepat ke tiga jurusan di timur.
Dalam waktu singkat, blitzkrieg Jerman membuahkan banyak hasil. Pada hari ke-17 serangan, di palagan tengah saja sekitar 300 ribu Tentara Merah ditawan. 2.500-an tank, lebih 1.000 senjata artileri, dan 250-an pesawat Rusia direbut atau dirusak.
Rusia terkejut namun pantang menyerah dan melakukan perlawanan. 3 Juli 1941 Stalin memberi pidato radio guna menyemangati rakyatnya. “Tentara Merah, Angkatan Laut dan seluruh warga negara Uni Soviet harus mempertahankan tiap inci wilayah Soviet, berjuang hingga tetes darah terakhir demi kota-kota kita dan warganya, harus mempertunjukkan karakter berani, ulet, dan enerjik rakyat kita,”kata Stalin dalam pidatonya sebagaimana diberitakan Pravda, 4 Juli 1941.
Moral pasukan Rusia terdongkrak. Gerak laju tentara Jerman tertahan. Terlebih ketika “General Winter” datang, jalan pun berlumpur dan jarak pandang minim; serdadu-serdadu Hitler yang kurang persiapan tak berdaya dibuatnya.
Titik balik pertempuran terjadi di Stalingrad (kini Volgograd), kota industri di selatan Rusia, setahun “Operasi Barbarossa” berjalan. Beberapa sejarawan percaya, Pertempuran Stalingrad semata-mata adalah adu gengsi antara Hitler dan Stalin karena nama kota itu mengacu pada nama Stalin. Alasan lain yang lebih masuk akal, Stalingrad penting dikuasai untuk memutus lalulintas Rusia utara dengan selatan yang kaya minyak. Hitler sangat membutuhkan Kaukasus, wilayah selatan Rusia, yang kaya minyak. Persediaan bahan bakar untuk mesin perangnya kian menipis. Pasokan dari sekutunya, Rumania, tak mencukupi.
Jerman sebetulnya dapat dengan mudah merebut Stalingrad. Namun Hitler melakukan blunder. Ketidakjelasan prioritas Hitler mengenai sasaran mana yang harus lebih dulu direbut, memecah kekuatan Jerman: ke Stalingrad dan Kaukasus. Dengan blunder itu, Hitler memberi waktu kepada jenderal-jenderal Stalin mempersiapkan pasukannya. Ketika memasuki palagan Stalingrad pada pertengahan September 1942, kualitas dan kuantitas serdadu Jerman sudah jauh menurun. Apalagi sudah banyak jenderalnya yang mengundurkan diri lantaran berbeda pendapat dengan Hitler. Bantuan serdadu dari sekutu-sekutu Jerman seperti Rumania, Hongaria, dan Italia jelas tak “mencukupi”: mutu dan persenjataannya tak sebaik serdadu-serdadu Jerman. Namun Jerman terus maju hingga ke tepi Sungai Wolga.
Sebaliknya, Rusia mengambil keuntungan dari keadaan itu. Stalin menunjuk Jenderal Georgi Zhukov untuk memimpin pertahanan Rusia di selatan dan pada tingkat lokal dia mempercayakan tongkat komando kepada Jenderal Vasily Chuikov. Rusia menjebak Jerman masuk ke dalam perang kota.
Baik Hitler maupun Stalin melarang serdadunya mundur. Pertempuran sengit pun pecah. Stalingrad berubah menjadi tempat pertempuran paling brutal dalam Perang Dunia II. “Perlindungan-perlindungan di sana meledak sepanjang front sejauh mata memandang,” kenang Marsekal Konstantin Rokossovsky, panglima Front Don, dalam memoarnya, A Soldier’s Duty. “Pesawat-pesawat musuh mendominasi udara, membombardir pasukan-pasukan kami dan, terutama, kota. Tiap serangan membuat Stalingrad tertutup asap.”
Namun, dalam pertempuran ini Rusialah tuan rumahnya. Rusia lebih tahu medan. Perlawanan gigih Tentara Merah yang didukung warga kota, membuat frustasi pasukan Jerman. Reruntuhan bangunan kota bukan saja menghalangi gerak maju pasukan Jerman, tapi juga menjadi benteng berharga orang-orang Rusia dalam menyerang balik. “Kami akan mempertahankan kota atau mati,” kata Jenderal Chuikov.
Operasi Uranus
Pada 19 November 1942, Rusia melancarkan balasan (Operasi Uranus), yang dipersiapkan secara matang. Dengan melibatkan lebih dari satu juta serdadu plus 14.000 senjata artileri, 1.000 tank T-34, dan 1.350 pesawat, Zhukov ingin membuat serangan kejutan yang masif. Dan serangan itu pun sukses. Jerman telat merespon. Tapi Hitler tetap menolak pasukannya mundur. Bombardir terus dilakukan Tentara Merah. Jerman pun berada dalam posisi defensif.
“Di beberapa sektor, serangan-serangan artileri dan udara kami berhasil menetralisir pertahanan Jerman,” kenang Rokossovsky.
Hitler mencoba memberi bala bantuan dengan memindahkan Grup Tentara A yang berkedudukan di utara ke selatan tapi tak membantu. Serangan Rusia jauh lebih cepat. Setelah bertahan mati-matian, Jerman menyerah pada 2 Februari 1943.
“Kebanggaan terbesar seorang serdadu adalah kenyataan bahwa dirinya telah ikut membantu rakyatnya mengatasi musuh, menegakkan kemerdekaan negerinya, dan membawa kedamaian,” tulis Rokossovsky. [M.F. Mukthi

Sunday, 21 August 2016

Kerajaan Surabaya lebih Tua dari Mataram

Kisah tentang Kerajaan Surabaya bukan hanya cerita khayalan. Sebab sastrawan Surakarta, Ki Padmosusastro 1902, menyisipkan penggal kisah kerajaan kecil di sudut Bang Wetan (Jawa Timur) ini dalam Kitab ‘Sedjarah Dalem’ yang saya baca beberapa waktu lalu di sebuah perpustakaaan. Setidaknya ini bisa meyakinkan.
begini tulisannya jika diartikan dalam bahasa Indonesia: Kerajaan Surabaya diperkirakan lahir 1365, jauh lebih tua dibanding Mataram yang lahir pada 1577. Namun kerajaan Surabaya secara resmi bubar setelah kekuasaan jajahan Mataram di Bang Wetan ‘beralih’ ke kompeni 1755. Akhir kerajaan Surabaya, tidak lepas dari pengaruh Mataram.
Namun kekuasaan Surabaya baru benar-benar hilang ketika penguasa Hindia Belanda Van Imhoff, berkunjung ke Surabaya pada 11 April 1746. Diperkirakan kerajaan ini berdiri selama tidak kurang dari 375 tahun.
Digambarkan, Pengaruh Kerajaan Surabaya meliputi Bang Wetan, Kalimatan Selatan, Kalimatan Timur, Pulau Sulawesi bagian tengah hingga selatan dan sebagian kepulauan Maluku bagian selatan. Surabaya adalah kerajaan niaga terakhir yang memiliki hubungan dengan Portugis, Belanda, Inggris, dan Tiongkok.
Menurut Padmosusastro, tidak tercatatnya nama raja-raja Surabaya karena minimnya sastra tulis di jawa pesisiran. seperti lazimnya kerjaaan di pedalaman Jawa. Namun penguasa Surabaya yang paling terkenal adalah raja abad 17 karena keberaniaanya menolak hegemoni tiga raja Mataram.
Catatan Padmosusastro menyebut nama Raja Surabaya itu adalah Jayalengkara. Putra raja ini lebih tersohor, yaitu Pangeran Pekik. “Pengeran Pekik sempat menggantikan ayahnya menjadi Raja Surabaya. Dia menikahi Adik Mas Rangsang alias Sultan Agung Hanyokrokusumo yang bernama Ratu Mas Pandan atau Ratu Pandansari,” begitu tulis Padmosusastro dalam bahasa Jawa di kitabnya.
Dijelaskannya, sejak Panembahan Senopati Ingalaga alias Sutawijaya memimpin Mataram Islam 1577, dia telah melihat potensi Surabaya yang sulit ditundukkan. Padahal Senopati bermimpi bahwa Mataram mewarisi tradisi Pajang yang berarti berkewajiban melanjutkan tradisi penguasaan atas seluruh tanah Jawa. Namun faktanya, Surabaya menjadi slilit bagi mimpi Senopati itu.
Catatan lain juga muncul. Kali ini seorang antropolog zaman Belanda, Dr de Graaf, yang menjelaskan jika Panembahan Senopati (1586 – 1601) yang bernafsu menguasai Surabaya tidak terlaksana hingga akhir kekuasaannya.
Penggantinya, Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak (1550-1613) juga gagal mewujudkan keinginan ayahnya menyatukan Jawa karena ganjalan Surabaya. Setiap raja Mataram selalu mencoba menyerang Surabaya namun selalu mental.
Hingga Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1645), yang berkeinginan mewujudkan mimpi buyutnya. Namun kekuatan militer Mataram tidak pernah benar-benar bisa menyeberang sungai Brantas.
Di dalam catatan yang saya temukan, Surabaya tidak hanya bertahan. Kerajaan ini sempat dua kali menyerang pusat kerjaaan Mataram di Kotagede selatan Jogjakarta. Yaitu pada 1614-1616. Namun dua kali pula serangan balasan ini juga kandas.
Kisah  ini tidak pernah tertungkap dalam sejarah resmi kerajaan di tanah Jawa
Ini lukisan 1722 dari pelukis belanda yang menggabrakn pintu masuk kerajaan Surabaya. data ini ini dari pusat dokumentasi Indonesia dan Karibia di Leiden Nederland

Siasat Buah Aren Kalahkan Surabaya

Pada akhirnya kecerdikan otaklah yang bisa mengalahkan Surabaya. Bukan otot dan pedang.
WINONGAN hanyalah sebuah kota kecamatan di wilayah kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang letaknya berada di sebelah tenggara Surabaya. Di kota kecil itulah pada 1614, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Suratani, mendirikan pusat komandonya sekaligus mengordinasikan serangan Mataram ke daerah timur. Sejak 1614, mulai dari Winongan, balantentara Mataram terus merongrong kekuasaan Surabaya. Serangan demi serangan pun dilakukan ke berbagai wilayah kekuasaan Surabaya di pantai utara Jawa, mulai dari Tuban, Gresik dan terus merangsek ke jantung kekuasaan Surabaya.
Ada dua kerajaan yang menjadi musuh utama Mataram, yakni Surabaya di timur dan Banten di barat. Sejak kepemimpinan Panembahan Hanyakrawati (1601-1613), Kerajaan Mataram gigih memperluas pengaruhnya di Jawa. Beberapa tahun menjelang akhir kekuasaanya, Raja yang kemudian setelah meninggal digelari sebagai Panembahan Seda Ing Krapyak itu memang menjalankan politik luar negeri yang aktif. Bahkan, mengutip sejarawan HJ. De Graaf, Panembahan mempekerjakan Juan Pedro Italiano, seorang petualang Italia, yang telah masuk Islam, untuk melobi para pedagang Belanda.
Semasa hidupnya Panembahan Krapyak gencar memerangi Surabaya namun tak pernah berhasil menguasai kota yang terkenal memiliki pertahanan yang kuat itu. Ketika Sultan Agung menggantikan posisi Panembahan Krapyak pada 1613, raja baru itu meneruskan pekerjaan sang ayah yang tak sempat berlanjut karena keburu wafat pada 1 Oktober 1613. Pada saat Sultan Agung memerintah, sebuah taktik lain dijalankan. Alih-alih menyerang langsung ke Surabaya, sultan yang sebelum dinobatkan bernama Raden Mas Jatmika itu memilih untuk menyerang lebih dulu daerah-daerah taklukan Surabaya.
Beberapa bulan setelah penobatannya, Sultan Agung langsung memberikan titah kepada Tumenggung Suratani yang disertai ribuan balatentara Mataram untuk segera berangkat menyerang daerah timur. Sultan Agung memberikan perintah dengan acaman: bunuh siapa pun yang mundur dari gelanggang pertempuran. Target serangan pertama adalah Pasuruan. Namun serangan itu gagal karena tentara Pasuruan bertempur habis-habis mempertahankan kotanya. Walhasil balatentara Mataram mundur ke Winongan dan bertahan di daerah itu dengan membangun perintang yang sangat kuat untuk melindungi diri dari kemungkinan serangan balasan.
Sementara menyusun kekuatan untuk serangan ulang, Tumenggung Suratani memerintahkan Tumenggung Alap-Alap merebut Lumajang dan Renong. Namun kedua bupati daerah itu berhasil melarikan diri. Tumenggung Alap-Alap dan pasukannya yang berhasil menguasai kota, menjarah harta benda milik bupati, bahkan menculik para perempuan untuk dibawa pulang. Aksi penyerangan dilanjutkan sampai ke Malang di mana pasukan Tumenggung Alap-Alap berhasil menangkap Rangga Toh Jiwa, bupati Malang yang sempat melarikan diri dari kejaran pasukan.
Cara pasukan Mataram menebar aksi teror ini cukup berhasil menimbulkan ketakutan di kalangan penguasa daerah-daerah protektorat Surabaya. Dalam jangka waktu yang singkat, Mataram terus menggempur daerah-daerah di Jawa Timur. Ekspedisi demi ekspedisi dikirim, mengoyak rasa tenteram para penguasanya. Tak semua serangan Mataram berhasil. Dalam beberapa serangan balasan, pasukan Mataram kocar-kacir, seperti yang terjadi pada pertempuran di Sungai Andaka (kini disebut sungai Brantas), di mana dua pemimpin pasukan Mataram, Aria Suratani dan Ngabei Ketawangan tewas di tempat.
Menyerang terlebih dahulu kota-kota satelit di sekitar Surabaya agaknya bertujuan untuk memutus jalur logistik ke Surabaya. Sebagai kota pelabuhan, Surabaya menggantungkan dirinya kepada daerah-daerah pedalaman (hinterland) untuk suplai berbagai kebutuhan sehari-hari. Bahkan kebutuhan atas air pun diambil dari kali Mas, salah satu dari dua cabang kali pecahan aliran Sungai Brantas yang melintasi Mojokerto. Kelak lewat sungai Brantas Surabaya bisa dibuat bertekuklutut.
Taktik demikian ditempuh Mataram karena serangan langsung terhadap Surabaya tak pernah berhasil. Surabaya terlalu kuat, apalagi bala bantuan dari Madura selalu siap setiap saat mempertahankan Surabaya. Selama bertahun-tahun, semenjak naih takhta, Sultan Agung terus melancarkan penyerbuan ke Surabaya. Seringkali menemui kegagalan tapi dia tak pernah jera untuk melakukan serangan.
Apa yang sebenarnya mendorong sultan dari trah Ki Ageng Pemanahan itu begitu ngotot menaklukkan Surabaya? Sejarawan Universitas Gadjah Mada Dr. Sri Margana mengatakan perebutan legitimasi kekuasaan religius adalah alasan utama kenapa Mataram gigih melancarkan perang terhadap Surabaya. “Mataram membutuhkan legitimasi keislaman dan itu dimiliki oleh Surabaya karena mereka keturunan para wali, sementara Mataram keturunan petani,” kata doktor lulusan Leiden University itu.
Menurut Margana legitimasi kekuasaan berdasarkan tahkta suci agama menjadi penting karena dengan itulah Surabaya memiliki pengaruh yang sangat luas. Konsepsi kekuasaan yang demikian bersumbu pada  kepercayaan di kalangan masyarakat Jawa bahwa raja adalah pusat kosmis yang memiliki pengaruh baik pada alam maupun masyarakat. Raja juga dipercaya sebagai keturunan nabi-nabi dan dewa-dewa. Anggapan itu dikaitkan dengan kepercayaan magis dari wahyu raja (pulung ratu) dan konsep pewaris keturunan darah raja (trahing kusuma rembesing madu wijining andhana tapa), hanya orang yang memiliki keturunan darah raja lah yang berhak menjadi raja (Poesponegoro:1992. 60). “Sementara trah Pemanahan itu kan trahnya petani, jadi mereka berada satu derajat di bawah trah wali seperti penguasa Surabaya, itu alasan Mataram menyerang Surabaya,” kata Margana.
Maka Mataram berani menempuh jalan mana pun untuk mengalahkan dan menguasai Surabaya. Cara Sultan Agung yang menggempur secara periodik wilayah kekuasaan setahap demi setahap menimbulkan korban yang cukup besar di pihak Mataram. Namun dia terus mencari cara agar Surabaya yang makin lama makin terdesak itu menyerah, terutama sejak kejatuhan Tuban pada 1619 menyusul kekalahan Madura pada 1624.
Setelah bertempur selama hampir satu dekade lebih, akhirnya Mataram berhasil memasuki pinggiran kota Surabaya yang pertahanannya tak terkalahkan itu. Pasukan Mataram di bawah pimpinan dua panglima perangnya, Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-Alap menggempur Surabaya pada 1624. Dari sumber Belanda, sebagaimana dikutip dari De Graaf (2002), kendati sudah berhasil menembus barikade pertahanan Surabaya, pasukan Mataram masih mengalami kesulitan mematahkan pertahanan pasukan Surabaya yang gigih mempertahankan pusat kotanya.
Tentara Mataram pun kembali menebar teror kepada penduduk pinggiran Surabaya. Sawah dan ladang milik penduduk diporak-porandakan dengan maksud para penduduk yang tetap bertahan segera menyerah seperti juga yang dilakukan oleh penduduk Sampang, Madura ketika mereka diserang Mataram beberapa waktu sebelumnya. Pertempuran dengan pihak Surabaya, mengutip De Graaf, “sudah sampai tingkat kritis. Sebanyak 80 ribu orang mengepung kota ini.” Karena alotnya pertahanan pasukan Surabaya, Mataram memilih untuk bersikap defensif sambil mencari akal untuk menyusun serangan mematikan kepada pihak Surabaya. Mereka pun mendirikan perkemahan di  sekitar Mojokerto sambil menunggu waktu tepat melancarkan serangan.
Tumenggung Mangun Oneng yang diberi mandat memimpin serangan ke Surabaya kali ini melancarkan taktik “bendungan Jepara” untuk menyumbat aliran sungai Brantas yang menjadi sumber air bagi penduduk Surabaya. Teknik pembendungan tersebut menggunakan berbatang pohon kelapa dan bambu yang diletakkan membentang di dasar sungai sampai dengan permukaannya. Setelah air tersumbat dan hanya mengalir sedikit saja, pasukan Mataram menceburkan bangkai binatang dan berkeranjang buah aren (latin: Arenga saccharifera). Bangkai menyebabkan air berbau busuk sementara buah aren menimbulkan gatal-gatal yang luar biasa hebatnya.
Air yang tercemar itu menyebabkan penduduk Surabaya terkena wabah penyakit batuk dan gatal-gatal. Taktik yang mendatangkan penderitaan bagi rakyat Surabaya itu sampai ke telinga raja. Sebuah pertemuan digelar oleh kalangan istana Surabaya tapi raja terlalu malu untuk memaklumkan kekalahannya pada Mataram. Maka diutuslah Pangeran Pekik, putra sang raja, beserta seribu tentara Surabaya untuk menemui Tumenggung Mangun Oneng. Melalui Demang Urawan, surat maklumat kekalahan Raja Surabaya disampaikan kepada Tumenggung Mangun Oneng. Menurut catatan VOC sebagai mana dikutip De Graaf, Surabaya dinyatakan kalah pada 27 Okotober 1625. Sejak saat itu Mataram mulai mencengkeramkan kuku kekuasannya di Jawa Timur [BONNIE TRIYANA].